Senin, 31 Oktober 2016

cerpen hidayah




hidayahku
 

Namaku Namira Sandra, aku mempunyai kisah yang aku alami sendiri, disini aku akan berbagi kisah itu.
Semua manusia pasti pernah mengalaminya, sama seperti diriku. Mencintai laki - laki itu sudah sewajarnya, aku pernah mengalaminya, aku menyukai seorang ikhwan yang bernama Nanda. Aku menyukai anak pondok tetapi aku sendiri masih jahiliyah.
Aku merasa malu kepadanya, aku ingin berubah tetapi itu sangatlah susah. Aku sangat mencintainya tetapi aku tak tahu dia mencintaiku atau tidak.
Dulu aku dengannya satu sekolah, dulu aku dengannya sangat dekat dan kedekatan itu membuat aku menyukainya. Laki-laki yang sangat baik, tampan siapa yang tak mau dengan laki-laki seperti itu. Setelah lulus sd dia masuk sebuah pondok yang sangat bagus dan sedangkan diriku hanya masuk sebuah smp yang masih Jahiliyah.
Ketika Nanda pulang dari pondoknya aku langsung mengirim pesan kepadanya, pertamanya aku basa basi dengannya, dan untungnya dia meladeniku dia membalas semua pertanyaanku, tetapi ketika aku bertanya tentang cewe dia tidak mau menjawab, aku hanya berfikir apa karena dia sudah di pondok jadi dia tidak mau berpacaran atau yang lain sebagainya. Ketika itu aku bertanya kepadanya,
”kenapa kamu ketika aku tanya tentang seorang wanita kamu tidak mau menjawab?” dan dia membalas
“karna aku ingin menjaga hafalanku dan berpacaran itu dalam islam tidak diperbolehkan.”
Aku sangat terkejut dengan kata kata itu. Dan aku bertanya satu kali lagi “apakah kamu pernah menyukai seseorang wanita?” dia menjawab,
“ya aku pernah menyukai seseorang karena menyukai seseorang itu wajar tetapi hal itu tidak diperbolehkan sampai berlebihan”
ternyata dia pernah menyukai seorang wanita , tetapi aku berfikir tentu saja wanita itu bukan diriku, tidak mungkin laki-laki seperti dia mau menyukai wanita sepertiku pasti dia menyukai wanita yang sholehah, baik, rajin sholat tidak seperti diriku yang hanya belajar pelajaran jahiliyah. Dan ketika itu aku sangat ingin berubah dan aku minta kepada umi untuk memasukanku ke pondok
“umi aku ingin masuk pondok, aku tidak mau bersekolah ditempat yang jahiliyah”
Ketika itu umi terkejut dengan perkataanku ini, tidak biasanya aku mengatakan kata kata ini.
“baiklah kalau itu mau kamu, umi akan masukan kamu kepondok”.
“terimakasih umi..”
Aku sangat bahagia, tetapi aku melakukan ini untuk laki-laki yang aku cintai dan orang tuaku bukan untuk yang lain.
Aku sangat bahagia, ketika keesokan harinya ibuku meminta surat perizinan keluar dari smp itu, dan umi sudah mendapat kertas perizinan itu.
Aku sudah diterima di pondok yang bernama pesanten Ar-raudah. Aku sangat bahagia karena diriku bisa masuk ke sebuah pondok walaupun aku belum merasakan pondok itu.
Tanggal 23 agustus aku masuk kepondok, pertama yang aku rasakan memang tidak betah tetapi setelah aku dekat dengan ustadzah yang ada disana aku mulai betah.
Banyak soal yang aku pertanyakan kepad=a ustadzah, ya pertanyaanku menyangkut pelajaran islam. yang pertama aku tanyakan kepada ustadzah adalah tentang pacaran.
“ustadzah apasih hukumnya pacaran.”tanyaku
“dalam islam pacaran itu tidak diperbolehkan fit”jawabnya
“owh.. jadi begitu ya dzah, sebenarnya nyatain cinta itu boleh gak sih dzah”tanyaku lagi
“jadi lebih baik tidak kita beri tahu siapa siapa, karena jika tidak kita beri tahu siapa siapa sampai kita meninggal dunia dan hanya allah yang tahu kita akan mendapat pahala yang sangat besar, karena kita telah memendam rasa cinta kita kepada ikhwan.”jawab ustadzah
“terima kasih ya dzah sekarang aku tahu apa hukum berpacaran.”
“baiklah”
Setelah itu aku masuk kamar dan aku merenungi, aku sekarang sudah tau apaa hukum berpacaran. Ternyata semua yang dikatakan Nanda itu benar.
Malamnya aku bertanya lagi kepada ustadzah
“dzah kita itu boleh gak sih masuk pondok karena orang tua dan untuk laki laki”
“sebenarnya kita itu harus ikhlas kepada allah, kita belajar sedikit demi sedikit untuk ikhlas karena allah, boleh untuk membahagiakan orang tua tetapi kita harus ikhlas karena allah bukan yang lain.”
“dzah jadi selama ini aku sholat, ngaji gak diterima ya?”.
“Kenapa tidak diterima?”.
“Karena aku masuk sini bukan karena allah, tetapi aku masuk sini untuk orang tia dan orang yang aku sayangi”.
“Tidak apa apa itu kan kamu belum tau, tetapi sekarangkan sudah tau hukumnya jadi kita harus belajar sedikit demi sedikit untuk belajar ikhlas karena allah”.
“Owh jadi selama ini yang aku lakukan gak sia sia ya dzah”.
“Tentu tidak”.
“Oke, makasih ya dzah udah memberi ilmu kepada aku”.
Dari situ aku mulai berubah dan sedikit demi sedikit aku ikhlas karena allah. ^_~
Aku ingin sekali melupakan nanda dari pikiranku tetapi itu sangat susah.aku tidak mau yang ada dihatiku ini laki laki itu bukan allah, karena aku tau allah cemburu jika makhluk yang diciptakannya mencintai orang lain dari pada allah.
Aku sangat ingin berubah, sekarang aku mulai mengerti apa itu islam dan hukum hukum yang lainnya .
Tidak seperti aku yang dulu yang hanya tau tentang kejahiliyahan. Sekarang sedikit demi sedikit kejahiliyahan itu aku hilangkan, yang sudah aku hilangkan dari pikiran dan hatiku adalah musik, nonton tv, sosmath. Tetapi ada satu hal yang sangat susah aku lupakan, yaitu mengagumi seorang laki laki.
Aku tahu menyukai seseorang itu wajar tetapi diriku ini tidak wajar karena aku selalu saja memikirkannya.
Memang sangatlah susah melupakan orang yang kita cintai, tetapi hal itu yang harus dihilangkan karena allah akan cemburu kepada hambanya ketika hambanya lebih menyukai orang lain dari pada allah.
Tetapi aku yakin diriku ini bisa menghilangkan satu keburukan itu dengan cara mendekatkan diri kepada allah dengan cara beribadah kepadanya, menghafal Al-Qur’an dan masih banyak lagi.
Didalam hatiku sudah ada tekad untuk melupakan laki laki itu. Dan aku sangat berusaha untuk melupakannya
Sebulan kemudian..
Alhamdulillah aku telah melupakan semua kejahiliyanku dan aku sangat berubah total, aku sekarang lebih alim dan tidak pernah ada pikiran tentang laki laki lagi di hatiku, hanyalah allah yang ada di hatiku.
Aku sangat berharap semua ini akan selalu melekat dihatiku

Tidak ada komentar:

Posting Komentar